bagaimana menurutmu terhadap blog ini?

Sunday, November 18, 2018

Backpakeran Dari Bali Menuju Lombok

Backpackeran Ke Lombok Dari Pulau Bali, (Part 1)



Maret 2018, sebelum Gempa Lombok terjadi, aku dan Jidha (@mujahidahjidha) teman kecilku kami berdua memutuskan untuk melakukan traveling ke lombok dengan uang yang minim dari Bali, karena kami menyadari mumpung di Bali ayok sekalian traveling ke Lombok. Agar bisa mengunjungi banyak tempat di Lombok, kami memutuskan untuk membawa motor dari Bali, tetapi meskipun konsep perjalanan kami backpackeran kami tetap harus mengkonsep perjalanan dan tidak asal-asalan. Setelah dipikir-pikir kami lumayan nekat, karena untuk menempuh perjalanan jauh ini kami hanya pergi berdua perempuan, dan menyebrang pulau baru yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya, kami menempuh total perjalanan sejauh 582 KM  (140 KM berlayar dengan kapal dan 436,6 KM dengan motor, dan aku sendiri yang mengendarai motor selama perjalanan, what a journey!).

Berikut ini aku mau sharing beberapa tips yang bisa dilakukan untuk melakukan perjalanan dengan biaya yang minim, tetapi sensasinya tidak kalah dengan traveling ala orang berduit, hehehe:

BEBERAPA TIPS YANG BISA DILAKUKAN:

*SEBELUM TRAVELING
1.    Membuat Itinerary (Rencana Perjalanan)
Agar perjalanan berlalu sesuai rencana, lokasi-lokasi yang iconic berhasil dikunjungi, jangan sampai perjalanan kita lama tanpa ada tujuan, karena hal tersebut akan membuang-buang waktu, uang dan tenaga. Dengan adanya itinerary akan sangat membantu sebagai panduan perjalanan, terutama untuk estimasi waktu dan biaya, sehingga kita tahu berapa hari total perjalanan. Berikut ini contoh itinerary sederhana.  
Rencana Perjalanan (Itinerary)

Hari ke-
Tempat tujuan
Jauh Perjalanan (Kilometer)
Perkiraan Waktu (Jam)
Perkiraan biaya
 Gambar Google Map
1
(Starting point) Abiansemal menuju Pelabuhan Padang Bhai (Pelabuhan untuk nyebrang dari Bali menuju Lombok)
44 km

2 Jam
Hanya bensin motor



Pelabuhan Padang Bhai menuju Pelabuhan Lembar

70 km
4 Jam berlayar
Rp. 135.00 (Untuk 2 Orang Sudah termasuk Motor)



Pelabuhan Lembar menuju Kota Mataram
24 km

45 Menit
Hanya bensin motor



Kota Mataram menuju Pantai Senggigi
18 km

30 Menit
Hanya bensin motor, tiket masuk Pantai Senggigi gratis



Pantai Sengigi menuju Islamic Center

30 km
30 Menit
Khusus Masuk Menara Islamic Center Rp.15.00/orang



Islamic Center menuju Kota Mataram (penginapan)
800 meter
4 menit
Rp. 100.000/kamar/hari


2
Kota Mataram menuju Pelabuhan Bangsal

26 km
47 Menit
Hanya bensin motor, dan uang penitipan motor Rp. 10.000/hari



Pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan

Berlayar di laut
30 menit
Rp. 35.000/orang menggunakan perahu sederhana



Gili Trawangan Snorkling di Tiga Tempat (Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air)

Snorkling
Mulai pukul 11.00 – 13.00 WITA
Rp. 100.000 snorkling langsung di tiga lokasi



Berkeliling dengan sepeda di Gili Trawangan sambil menikmati pantai

30 menit
Sewa sepeda Rp.50.00/hari/orang


3
Pelabuhan Bangsal menuju Koeta (Lombok Tenggara)

82 Km
2 jam 30 menit
Rp. 35.000/orang



Koeta (Lombok Tenggara) menuju Ke Pantai Kuta Mandalika

5,9 Km
14 menit
Hanya bensin motor, tiket ke Pantai Kuta Mandalika gratis


4
 Koeta (Lombok Tenggara)  menuju Pantai Pink

54km
2 jam
Tiket masuk pantai Pink Rp. 10.000/orang



Pantai Pink menuju Pantai Penyisok

8,6km
1 jam (karena jalan sangat jelek)
Gratis masuk ke pantai penyisok



Pantai Penyisok menuju Koeta (Lombok Tenggara)
50km

2 jam
Hostel di Koeta (Lombok Selatan) Rp. 100.000/kamar sudah include breakfast dan kamar mandi didalam


5
Koeta (Lombok Tenggara)  menuju Desa Sade / Sade Village
12 Km
21 Menit
·      Tiket masuk (Donasi saja)
·      Biaya untuk Tour Guide (Terserah mau bayar berapa saja)

·       


Koeta (Lombok Tenggara) menuju Pelabuhan Lembar

56 km
2 jam 30 menit
Hanya bensin motor



Pelabuhan Lembar menuju Pelabuhan Padang Bhai

70km
4 jam berlayar
Rp. 135.00 (Untuk 2 Orang Sudah termasuk Motor)



Pelabuhan Padang Bhai menuju Abiansemal (Finishing Point)

44km
2 jam
Hanya bensin motor


Total 5 hari

582 Km




2.    Mencari Tahu Medan Perjalanan.
Amankah atau tidak (dengan cara bertanya dengan warga lokal, pesan dari ibuku apabila ingin menanyakan suatu informasi tanyakan kepada pak polisi saja biar aman, tetapi kenyataannya tidak, hehehe aku menannyai jalan kepada warga lokal yang aku temui, karena terkadang jalanan kami kiri dan kanan adalah hutan atau kebun, mana ada bapak polisi? Hehehe
3.    Mencari Tahu Kemanan Lokasi Tujuan Dari Begal, Rampok, Pencuri, dll.
Waktu itu, aku dan Jidha mau pergi ke Pantai Surga di Lombok, tapi tidak jadi karena lokasinya ternyata berbahaya, banyak begal disana, apalagi kami berdua perempuan, dan waktu itu hari sudah sore, untuk kami bertanya kepada masyarakat lokal, dan mereka bilang tidak aman pergi kesana karena banyak penjahat, akhirnya kami membatalkan lokasi tersebut.
4.    Mendekatkan Diri Ke Masyarakat Lokal
Tidak sombong dan ramah kepada warga lokal. Saya ingat ketika dari pantai pink menuju penyisok kami dibantu warga lokal, karena lokasinya yang jauh, jalan yang sangat buruk dan lokasi yang terpencil, warga lokal yang membantu kami untuk sampai dilokasi.
5.    Memastikan Barang Bawaan Tidak Terlalu Banyak.
Barang bawaan yang banyak akan menghambat perjalanan, inilah hal yang saya perlajari, terkadang saya sering membawa pakaian yang berlebihan, sehingga ketika saya traveling itu cukup menyulitkan, apalagi perjalanan saya dari Bali menuju Lombok menggunakan kendaraan bermotor, sehingga cukup berbahaya apabila membawa barang yang terlalu banyak.
6.    Apabila Menggunakan Kendaraan Bermotor Pastikan Bahwa Kondisi Motor Atau Mobil Baik.
Saya dan Jidha sempat terjatuh dari motor karena kondisi jalan yang sangat jelek, untung pada saat itu kami dibantu warga lokal karena akibat dari kecelakaan tersebut gas motor menempel sehingga ketika motor baru dihidupkan gas langsung hidup dengan kekuatan tinggi, untung saja masyarakat membantu untuk memperbaiki motor yang rusak.
7.    Pastikan Membawa Handphone yang Full Battery Untuk Menunjukkan Jalan Melalui google maps.
Apabila baterai hp tidak full otomatis tidak bisa membuka google map dan tidak tahu jalan, jadi pastikan hp full baterai selalu.

*SAAT TRAVELING
1. Jangan Tersesat
Menurutku, ketika menjadi backpacker, persiapanmu harus matang dan bagus, kenapa? Karena kita tidak punya cukup uang dan waktu untuk tersesat-sesat manja. Apabila kita tersesat itu artinya kita melampaui batas waktu, itu berarti kita melampaui jarak tempuh, apabila menggunakan motor kita harus menambah uang bensin, apabila melampaui hatas hari kita harus melampaui batas penginapan dan harus bayar hostel. Itu merugikan sekali bagi backpacker, jadi jangan berharap nyasar ya, ada yang bilang mereka suka tersesat ketika traveling, kalau begitu berarti teman-teman harus siap mengeluarkan uang lebih.

*SETELAH TRAVELING
1. Ceritakan, Tuliskan, Serta Evaluasi Perjalananmu.
            Perjalanan adalah pengalaman yang sangat berharga, jangan disimpan didalam dada, ceritakan kepada keluarga, teman atau sahabat, atau kepada siapa saja yang mau mendengar, agar ceritamu bermanfaat.

*TIPS TAMBAHAN
1. Manfaatkan segala kesempatan
Maksudnya adalah bagi teman-teman yang suka mengikuti kegiatan seperti seminar, conference, di Kota lain atau di Negera lain, teman-teman juga bisa menggunakan kesempata tersebut untuk sekalian jalan-jalan, jadi kesempatan tersebut tidak hanya untuk mengikuti acara, tetapi luangkan beberapa hari setelah kegiatan berakhir tersebut untuk “me time”, waktunya untuk berlibur menggunakan kesempatan tersebut. Karena dengan menggunakan tersebut teman-teman bisa berenang sambil minum air, tidak hanya ikut seminar di suatu daerah tapi juga bisa pergi jalan-jalan, apalagi kalau acara yang teman-teman ikuti itu, fully funded (dibiayai), pasti seru sekali.

Berikut ini daftar nama daerah yang saya kunjungi sebagai bonus karena tidak hanya pergi ikut training, seminar atau conference, tetapi juga traveling.
·         Ikut National Booth Camp di Jakarta sekalian jalan-jalan mengunjungi gedung DPR RI
·         Training YLCC di Medan, dan melakukan backpackeran ke Aceh
·         Magang kerja di Bali dan melakukan backpackeran hingga ke Lombok
·         Ikut conference di Riau sekalian mengunjungi  Kerajaan Siak
·         Summer School di Wuhan dan melakukan backpackeran hingga ke Beijing

Itu bisa menyimpan banyak uang daripada kita pergi kesuatu tempat hanya dikhususkan untuk menuju tempat tersebut pasti akan mengeluarkan uang yang sangat banyak. Itulah dia tips-tips untuk melakukan perjalanan, akan berlanjut di part 2, tunggu tulisan selanjutnya ya.




Sunday, October 7, 2018

Sebuah Perjalanan atau Pelajaran?



Sebuah Perjalanan atau Pelajaran?

(Edisi Puisi)
by: Dian Montanesa


Ketika mata tak henti mencari,
Ketika langkah tak ingin berhenti,
Ketika hati selalu ingin pergi,

Ketika rasa penasaran, mengalahkan rasa untuk tinggal,
Akhirnya sebuah perjalanan dipilih,
Walaupun belum tentu berakhir bahagia,
Setidaknya perjalanan akan mengajarkan banyak hal,

Melalui perjalanan aku melihat banyak hal,
Aku melihat pemandangan yang sebelumnya belum pernah kulihat,

Melalui perjalanan aku menemukan banyak hal,
Aku bertemu banyak orang yang tak sama denganku,

Melalui perjalanan aku mempelajari arti pertolongan,
Aku tahu Siapa yang selalu menolongku, dan siapa yang mudah mencampakkanku,

Melalui perjalanan aku tahu banyak hal,
Aku tahu lebih hati-hati memilih makanan, mana yang pantas dimakan mana yang tidak,

Melalui perjalanan aku menempuh jalan yang lebih panjang,
Aku tahu rasanya tersesat, rasanya sendiri, rasanya tersiksa, dan rasanya sepi,

Melalui perjalanan aku menemukan diriku,
Aku tahu bagaimana rasanya sendiri, ditengah keramaian,

Melalui perjalanan aku mengikhlaskan banyak hal,
Aku tahu tak semua pengorbanan dibalas pengertian, terkadang dibalas cacian,

Melalui perjalanan aku merasakan banyak hal,
Aku merasa sedih, sepi, bahagia, senang, kecewa, dan puas diwaktu yang sama.

Melalui perjalanan aku paham akan banyak hal,
aku jadi paham mana tempat yang menerimaku, dan mana tempat yang menolakku,

Melalui sebuah perjalanan, aku tahu mana yang boleh dilakukan mana yang tidak boleh,
Melalui sebuah perjalanan, aku belajar cara memperlakukan orang lain dengan baik,
Melalui sebuah perjalanan, aku sadar, hatiku lebih kuat daripada kakiku,
Melalui sebuah perjalanan, aku paham, tidak semua orang itu baik,
Melalui sebuah perjalanan, aku paham, tidak semua orang itu jahat,
Melalui sebuah perjalanan, aku paham, tidak mudah percaya adalah sikap yang bijak
Melalui sebuah perjalanan, aku tahu, tidak semua orang menyukaiku
Melalui sebuah perjalanan, aku tahu, tidak semua orang membenciku
Melalui sebuah perjalanan, aku tahu mana yang harus disimpan, dan mana yang harus diikhlaskan
Melalui sebuah perjalanan, pada akhirnya akan selalu ada harapan untuk mencapai jalan pulang,

Melalui sebuh perjalanan, aku tahu, tak selamanya perjalanan berujung bahagia, terkadang perjalanan hanya menyisakan satu harta yaitu pelajaran, yang bisa dibawa mati.
Catatan: untuk semua manusia diluar sana yang suka melakukan sebuah perjalanan, jangan terlalu banyak berharap atas perjalananmu, diakhir perlajanan, kau hanya perlu duduk sendiri, mengevaluasi perjalananmu dan mengambil pelajaran untuk engkau simpan di hati dan engkau ceritakan kepada para penempuh perjalanan yang pantas mendengar ceritamu sebagai sebuah makna pelajaran nan berharga, karena tak semua orang butuh ceritamu terkadang mereka hanya penasaran bagaimana ending dari perjalanamu yang terkadang tak berujung senyum.


Friday, October 5, 2018

Keluarga Kecil Dari Tiongkok


Keluarga Kecil Dari Tiongkok

Ini merupakan cerita ku beberapa hari yang lalu ketika aku satu penerbangan dengan sebuah keluarga dari Tiongkok. Penerbangan dari Bali menuju Jakarta memang banyak berisikan penumpang turis dari mancanegara yang biasanya baru saja pulang berlibur. Kebetulan pada hari itu  di atas pesawat aku duduk tepat di belakang kursi satu keluarga berasal dari negara Cina terdiri dari Ayah, Ibu, dan seorang Anak laki-laki. Aku tahu ini adalah keluarga berasal dari Cina karena perbincangan mereka mengingatkan ku beberapa waktu yang lalu ketika bulan Juni 2017 aku dan bersama teman-temanku melakukan program short course di sana, sehingga aku tahu aksen bicara mereka berasal dari Cina. 

Aku suka dengan negara Tiongkok karena dahulunya aku pernah membaca buku karangan Agustinus Wibowo yang berjudul Titik Nol. Di dalam buku tersebut menceritakan  seorang anak muda yang terlahir dan besar di Indonesia dan keturunan Tiongkok dan akhirnya melanjutkan S1 di Tiongkok dan melakukan perjalanan ala backpacker  mulai dari Cina lalu melintasi negara Timur Tengah. Aku suka dengan cerita di dalam buku tersebut karena membuat imajinasi ku melayang ke daerah mempesona tetapi terkepung perang di  negara-negara Asia Tengah.

Selanjutnya, Aku suka Cina karena peradabannya yang maju dan diharapkan bisa menjadi contoh, bahkan nabi Muhammad SAW berkata “Tuntunlah ilmu sampai ke negeri Cina”.

Aku ingin menceritakan betapa terpesona nya aku dengan seorang bocah laki-laki berusia kira-kira 4 tahun yang duduk tepat di depan kursi ku. Sepanjang perjalanan aku memperhatikan sikapnya sembari tertawa-tertawa sendiri melihat tingkah-nya yang lucu, penasaran dan imut.

Selama perjalanan dari Bali menuju Jakarta kami melewati banyak pulau, selat, teluk, pegunungan, perbukitan yang sangat cantik apabila dilihat dari atas pesawat, khatulistiwa terlihat begitu indah. Memang kebiasaanku apabila check in memilih kursi yang paling tepi di samping jendela, karena selama perjalanan aku tidak mau tidur, aku mau melihat alam Indonesia nan mempesona dari atas pesawat yang terbang kira-kira setinggi 28.000 kaki.

Selama perjalanan bocah cilik keturunan Tiongkok yang duduk di depan aku juga duduk di tepi jendela. Ibunya duduk di tengah, dan si Ayah duduk di lorong, selama perjalanan si Ibu terlihat capek hingga ia terlelap di atas meja yang terbuka, Ayah hanya mengawai sisi anak sembari si anak selalu memberitahu Ibunya ketika ada suatu hal yang membuat ia terpesona dari atas pesawat ketika melihat sesuatu di bawah yang menarik perhatiannya.

Dari awal keberangkatan hingga akhir perjalanan si Anak tidak henti-hentinya terpesona, terkadang ia menepuk punggung Ibunya yang sedang terlelap dan  memberi tahu Ibunya “Lihatlah keluar Ibu, itu ada pulau kecil, pulau apa itu namanya? Ibu coba lihat awannya indah sekali, Ibu itu ada Gunung, Gunung apa namanya?” aku rasa arti ucapan anak tersebut, meskipun dalam bahasa Cina yang sebenarnya aku tidak mengerti, tapi aku rasa itulah arti perkataan si Anak yang tak henti-henti terkagum melihat Indonesia dari atas awan.

Sang ayah selalu menunjukkan kebahagiaan anak dengan mengangguk angguk membalas percakapan si Anak yang satu arah saja sembari memberikan anak laki-laki itu biskuit. Semakin aduhai kenikmatan si bocah tersebut, karena ia melihat keindahan Indonesia sembari memakan biskuit coklat yang remah-rempahnya berserakan ke mana-mana.

Si Ayah tak menghardik anak untuk tenang dan diam selama perjalanan, si Ayah membiarkan anaknya mengekspresikan apa yang ia rasakan dan apa yang ia lihat. Sama dengan si Ibu yang terlihat kurang sehat hanya diam dan menutup mata dan memberikan kebebasan kepada anaknya untuk mengobservasi pesona Indonesia.

Aku rasa suatu hari kelak si Anak akan menjadi traveler sejati, hahahha itu menurutku karena si anak begitu takjub dengan melihat Indonesia dari atas dan rasa ingin tahu nya yang tinggi. Begitu juga denganku, aku tak bosan-bosan melihat pulau Indonesia dari atas sembari menebak aku sudah dimana yaa, “hmmm sepertinya di bawah itu sekarang ini aku di Banyuwangi, oh itu ada pantai, sepertinya pantai itu berada di bagian utara pulau Jawa, apa saja ya kota yang berada di bagian Utara Pulau Jawa, waah ada gunung , itu gunung apa ya? Hmmm mungkin Gunung Bromo, wah ada danau, itu Danau dimana ya??”.

Semua percakapan atas sebuah penasaran juga hanya ku-ucapkan dalam hati sembari berimajinasi seandainya aku bisa berbahasa Cina ingin rasanya aku berdialog dengan bocah cilik ini tentang rasa penasaranku dan rasa penasarannya.



Si bocah cilik ini terlihat begitu senang menikmati perjalanan dari Bali menuju Jakarta, tak sedetikpun dia terlelap, tetapi terkadang ia menutup kaca jendelanya lalu membuka kembali lalu memukul mukul kaca seolah-olah tangannya ingin menyentuh awan, oh so sweet sekali ku berbisik dalam hati.

Ketika pesawat mendarat kenikmatan mataku dan mata bocah cilik menelurusi Bali hingga Jakarta pun berakhir, kami sudah puas melihat alam ini.
Si Anak, Ayah dan Ibu berlalu begitu cepat ketika pesawat mendarat, padahal aku ingin menyapa mereka dengan bahasa Cina “nihao” ya setidaknya itu saja yang aku ingat kata sapaan dalam bahasa Cina.

Sampai jumpa, semoga suatu hari nanti aku bisa menjelajah di Cina lagi di negerimu yang terlalu besar untuk dikunjungi dalam sekali kunjungan saja, aku berharap aku bisa kesana lagi. See you Negara Tirai Bambu J 

Wednesday, October 3, 2018

Para Penembus Garis Batas

Para Penembus Garis Batas.
Para penembus garis batas tak memperhatikan merek jam tangan apa yang kamu pakai.
Para penmbus garis batas tak menilai merek baju apa atau tas apa yang kamu pakai
Para penembus garis batas tak memperdulikan berapa penghasilanmu berpulan.
Para penembus garis batas tak mempermasalahkan apa pekerjaan orangtuamu.
Para penembus garis batas hanya menilai bagaimana cara engkau menghargai orang lain.

Mengapa dunia kita dikotak-kotakkan?
Kenapa harus ada sebuah batasan?
Kenapa setiap wilayah dibatasi?
Kenapa beda pemimpin? Beda kekuasaan? Beda peraturan? Beda batasan?
Tidak bisakah manusia saling membaur saja?
Mendobrak batas-batas tersebut?
Menerjang batas batas tersebut?
Menembus batas-batas tersebut?
Mengapa kita hidup berkoloni sesuai dengan kemiripan dan kesamaan saja?
Mengapa kita hidup terkotak-kotakkan?
Tidak bisakah kita memiliki teman yang beragam?

Cobalah lihat di zona nyamanmu, engkau lihat ke arah kiri, lihat ke arah kanan, lihat kedepan, kulihat di belakang, oh wanita itu sama denganku, dari semua aspek, kulitnya cokelat, tingginya setara, agamanya sama, budayanya, bahasanya sama, oh zona nyaman begitu membosankan.
Kini ku coba dobrak batas batas tersebut, ku lintasi beratus-ratus kilometer untuk mendobrak “garis batas” kini kulihat kanan, kiri, depan, belakang, oh semua temanku tidak lagi mirip denganku, kulihat kedepan oh rambutnya pirang, kulihat kesamping oh kulitnya putih langsat, kuliha kita bergam, kita berbeda, kita bahagia, kita saling belajar, dan yang terpenting kita manusia.

Manusia tidak harus dikotak-kotakkan sesuai kemiripan tubuhnya,
Mengapa begitu sulit bagi manusia untuk mendobrak garis batas? Mengapa terlalu banyak yang takut unutk melewati garis batas tersebut? Bukankah kita sebaiknya membaur dan membawa nilai yang telah ditanam didalam diri masing-masing agar meskipun berbeda kita tetap tahu batasan?

Tak perlu cemas ketika melewati garis batas tersebut,
Yang perlu dicemaskan adalah ketika terus menerus merasa benar didalam kotak keegoisan dan tidak mau melihat bagaimana nasib orang lain yang terkotak-kotakkan diujung sana.