bagaimana menurutmu terhadap blog ini?

Friday, March 16, 2018

Merasa Tak Berharga (Lagi)




Merasa Tak Berharga (Lagi) 

----> Ada Beberapa anak yang tidak mau merawat orangtuanya, akhirnya mereka menitipkan orangtua mereka di panti jompo. 
---->Ada Beberapa orangtua yang tidak mengakui anaknya dan membuang anak yang baru dilakirkan.
---->Ada Beberapa sahabat yang meninggalkan sahabat lamanya karena memiliki sahabat baru
---> Ada Beberapa pasangan yang meninggalkan pasangan yang sah demi pasangan lain yang katanya lebih baik dari sebelumnya...

Orang orang yang ditinggalkan akan merasa tidak berharga lagi, karena orang orang yang dipikir akan ada selalu disampingnya memilih untuk meninggalkannya.
Merasa diri tidak beharga lagi mulai muncul didalam diri, kenapa? Ya karena orang  yang dekat dan seharusnya bersama dengan kita memilih untuk pergi..

Si anak yang ditinggalkan orangtuanya merasa tak beharga (Lagi), karena seharusnya orantuanya menyayanginya,menjaganya, melindunginya (Lagi), tapi kenyataannya orangtua mereka memilih meninggalkannya.

Si orangtua merasa tidak berharga (Lagi), karena anak yang seharusnya merawatnya di masa tua meninggalkannya

Si sahabat merasa tidak berharga (Lagi), karena sahabatnya meninggalkannya demi sahabat barunya

Si pasangan merasa tidak beharga (Lagi), karena seharusnya menikmati masa tua bersama seseorang yang ditemani dari awal dan akhirnya ditinggalkan demi pasangannya yang lain.
Dibuang merupakana perasaan yang sangat tidak baik untuk dialami manusia, itu akan membuat manusia merasa tidak berharga, merasa tidak dihargai, merasa tidak dianggap dan merasa tidak dianggap keberadaannya.

Maka daripada itu, banyak manusia yang merasa self-esteemnya rendah dan memilih untuk mengakhiri hidupnya, karena merasa tidak berharga (lagi).

Mengahargai orang orang yang  berada disekitar kita merupakan hal yang sangat penting, meskipun hanya sekedar mengucapkan terimakasih, maaf, dll.

Ucapan rasa cinta dan sayang yang dilontarkan oranguta kepada anak juga sangat bagus untuk pertumbuhan anak dibanding orangtua berkata-kata yang kasar dan membuat anak merasa tidak berharga seperti “bodoh” dll.

Mulailah menghargai apapun itu yang oranglain lakukan kepada kita meskipun hanya sebesar biji, setidaknya apabila tidak mampu berbuat baik maka hargailah, jangan meninggalkan.

Tuesday, March 6, 2018

Agar Engkau Mudah Dikenali Part 2



Agar Engkau Mudah Dikenali Part 2



Hello teman-teman semuanya, mungkin udah pernah baca blog saya sebelumnya yang berjudul  “Agar Engkau Mudah Dikenal Part 1”, nah kali ini saya ingin menuliskan sebuah pengalamanku yang berjudul sama dengan cerita yang berbeda.

Untuk 6 bulan kedepan, mulai bulan Januari 2018-Juni 2018 saya akan menetap sementara di Bali untuk magang disalah satu Sekolah Alam di Bali, di Bali yang kental dengan budaya yang sangat berbeda dengan kampung halaman serta mayoritas agama yang berbeda menjadi pengalaman yang sangat menarik selama enam bulan ini dan finally saya menjadi seorang minoritas lagi, yeay! 

Bagiku menjadi seorang minoritas itu adalah hal yang luar biasa, kita menguji kembali prinsip diri sendiri, sejauh apa mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru, menjadi minoritias artinya belajar banyak hal dari kehidupan disekitar yang berbeda, menjadi minoritas berarti waktunya untuk mengaplikasikan makna kehidupan “dimana langit dipijak disitu langit dijunjung”, menjadi minoritas berarti kita harus mampu menahan hal-hal baru yang ada disekitar yang bergeser dengan prinsip hidup yang dianut, menjadi minoritas juga berarti harus mampu menghormati perbedaan orang-orang disekitar dengan cara yang baik.

Baiklah, kembali ke topik, “Agar Engkau Mudah Dikenali Part 2”. 

Dahulunya dulu sekali saya sering berpikir, enak sekali ya bisa menjadi seorang laki-laki muslim, apabila laki-laki muslim pergi keluar negeri atau ketempat dimana dia menjadi minoritas dia kemungkinan besar tidak akan di bully, dikarenakan identitas keagamaan yang dibawa tidak terlalu kelihatan seperti wanita muslim yang selalu menggunakan jilbal. Tetapi sejauh ini ketika saya menjadi minoritas baik disuatu tempat saya tidak diperlakukan dengan baik, seperti berkah yang saya ceritakan pada blog saya yang berjudul “agar engkau mudah dikenali part 1”.

Ketika siang itu, jam menunjukkan pukul 12.25 WITA. Itu tandanya untuk makan siang bersama di Sekolah. Pada hari itu menu makan siang tercium sangat lezat dan harum, ketika aku melihat menunya, yeay! Ada sup panas yang tersaji dengan sangat lezatnya di atas meja, dengan spontannya aku mengambil mangkok putih berisi sup itu, dan tiba tiba seorang Ibu yang bekerja di dapur dengan cepat menegurku, 

“eh eh yang kerudungan sini sini..........ini yang ayam” sambil menunjuk ke arah ayam yang berada diatas mangkok besar.

Sejenak aku terdiam, dengan langkah gontai aku pergi menuju piring yang berisi ayam, dan dengan polosnya aku bertanya “kok enggak boleh makan sup itu bu? Itu sup apa? “
“itu sup Babi!!” jawabnya tegas.

Lama aku terdiam dan rasa kelezatan sup yang telah sampai kekerongkonganku langsung menghilang.

Yah...aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu, ya aku bersyukur dalam hati dan berterimakasih, untung saja aku menggunakan jilbab, sehingga aku mudah dikenali oleh Ibu dapur bahwa aku seorang muslim, sehingga iya bisa melarangku sebelum makanan tersebut masuk kedalam perutku ini, hehehe.

Sedangkan di lain hal, ketika aku mengambil makanan tersebut aku diikuti oleh temanku yang juga muslim, dia laki-laki, sehingga otomatis tidak menggunakan jilbab, dan wajahnya sedikit Chinese, tiba tiba dari belakang dia berkata “terimakasih Dian, untung aku ikutin jejak kamu kalo enggak aku udah salah ambil makanan”. Dilain hal, temanku yang  juga muslim tapi tidak ada identitas diri yang mewakilinya sangat rentan untuk salah makan ataupun salah minum, karena Ibu dapur sulit mendeteksi keIslaman temanku ini dikarenakan tidak berjilbab. Ya Alhamdulillah ku ucap syukur, aku yang dahulu berpikir bahwa menggunakan jilbab membuat kita mudah menjadi sasaran yang ingin membuli tapi ketika aku menjadi minoritas dan mampu menunjukkan identitas diri bahkan sangat membantuku dalam kegiatan sehari-harinya.

Friday, December 15, 2017

Sekolah Untuk Apa? Untuk Apa Sekolah?

Sekolah Untuk Apa? Untuk Apa Sekolah?

Benarkah itu sekolah namanya? Apabila sepulang dari sekolah anak mampu berkata-kata kotor dan kasar? Benarkah itu namanya sekolah ketika para guru memukul muridnya seperti maling? Benarkah itu sekolah namanya apabila yang dikategorikan anak pintar apabila juara 1 di kelas ? dan melupakan nilai-nila tata krama? Apakah itu sekolah namanya ketika anak hobinya saling pukul dan tidak mau tolong menolong? Benarkah itu sekolah apabila yang terpenting nilai di lapor saja dan melupakan tata krama? Apakah benar itu sekolah namanya apabila bully adalah hobi siswa? Apakah itu sekolah namanya apabila anak yang lulus UN dengan nilai sempurna lebih dipuji tapi hasilnya dari menyontek dibanding anak yang hasil nilai UN nya hanya 70 tapi dari hasil kejujuran?

Mengapa saya tanyakan hal ini? Karena coba di check kembali, selama 12 tahun sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, kegiatan membuang sampah pada tempatnya saja anak tidak mampu , hal yang dianggap sepele tapi sangat besar dampaknya, mungkin orang berpikir, ah kan Cuma satu sampah yang saya buang, dan lihatlah perkara sepele kini telah menjadi perkara besar, banjir di mana-mana karena banjir, so, kemampuan membuang sampah pada tempatnya apakah masih menjadi hal yang sepele? Dan apa gunanya bersekolah apabila membuang sampah saja anak tidak mampu? 

Menurut agama islam, sekolah utama dan pertama bagi anak adalah ibu. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Sekolah berasal dari bahasa Yunani yang artinya kegiatan yang mengisi waktu luang. Ketika kedua orangtua mampu mendidik anaknya dengan baik, maka tak masalah apabila anak didik oleh orangtua (homescholling), maka sekolah sebenarnya dibutuhkan bagi orangtua yang tidak mampu mendidik anaknya, dan mempercayai di sekolah anaknya akan menjadi lebih baik. Tetapi sistem saat ini membutuhkan ijazah untuk bekerja, sehingga sekolah ditempat yang formal menjadi kewajiban.

Banyak orangtua yang mengeluh karena anak-anak yang katanya kids zaman now tidak lagi bermoral, mereka tidak ada sopan santun lagi seperti yang dulu, dalam berucap tidak membagi mana kata yang tepat dipakai untuk orang dewasa, sama besar, atau yang lebih kecil.

Saya ingin berbagi pengalaman, saat ini saya magang menjadi fasilitator di Sekolahalam Minangkabau, disini saya menemukan keajaiban-keajaiban, disini saya menemukan anak-anak yang masih polos dan sesuai dengan usia mereka dalam bersikap, saya masih merasakan adab ketimuran yang dijunjung tinggi orang Indonesia, saya masih merasakan nilai-nilai yang ada di buku PKN yang saya pelajari ketika SD dulu dilakukan disini, mari kita bahas:

Ini adalah beberapa point yang paling mencolok yang membuat saya takjub dan optimis bahwa generasi bangsa yang baik bisa dihasilkan melalui sistem sekolah yang seperti ini:

1.    Mengucapkan “Assalamualaikum, Boleh Saya Masuk?”
Ini hal yang paling menakjubkan bagi saya ketika berada di Sekolahalam Minangkabau, setiap anak yang ingin masuk kelas yang bukan kelasnya harus berkata seperti itu didepan pintu sebelum masuk kelas, apabila jawaban yang diterima  “Waalaikum Salam Wr, Wb, tidak boleh masuk”. Maka anak-anak tidak akan masuk karena mereka tidak mendapatkan izin dari si pemilik kelas, hal ini sangat baik diterapkan di sekolah manapun, karena selain sopan juga menekan drastis pencurian atau kehilangan uang di kelas.

2.      Mengantre Membeli Makanan di Kantin Sekolahalam Minangkabau Meski Hanya Membeli Bakwan.
Di Sekolahalam Minangkabau Siapa saja yang ingin membeli makanan meski pun hanya bakwan 1 potong, kerupuk mie sepetak, tetap harus antre, bisa saya bayangkan banyak anak-anak yang kalau berbeanja di kedai sekolah lainnya biasa bersikap seperti ini
“ibu..ibu..awak bali bakwan ciek iko pitihnyo, balik ampek ribu lai” tidak mampu antre, berteriak-teriak, mendesak-desak, mendorong-dorong. Tapi di Sekoahalam Minangkabu aku menemukan sisi lain, di mana antre merupakan kebiasaan yang mereka terapkan.

3.      Membuang Sampah Pada Tempatnya
Di Sekolahalam Minangkabau tidak ada sampah plastik yang berserakan di kawasan Sekolah, palingan sampah daun yang gugur, anak-anak tahu harus buang sampah kemana, bahkan anak berkebutuhan khusus (ABK) saja mengeri dan bisa melakukan. Nah kita yang Alhamdulillah normal masa tidak paham juga membuang samaph pada tempatnya.

4.      Jujur
Saya ingat pada suatu hari hari di Sekolahalam Minagkabau saya ditegur oleh siswa saya karena saya mengobrol ketika Adzan Dzuhur, sebenarnya tidak ada niat untuk mengobrol, tetapi da siswa dismping saya yang mengajak saya bercerita, lalu saya layani karena tidak enak bagi saya tidak melayani sisa yang ingin mengobrol dengan saya, pada saat itu siswa yang mengontrol keamanan ketika adzan menegur saya dihadapan siswa yang lain, sebelum dia menegur saya da bertanya “tadi siapa yang berbicara ketika adzan angkat tangan, lebih  baik jujur sekrang,  dri pada kelak allah balas di akhirat” langsung tanpa ragu beberapa anak mengangkat tangannya tanpa ragu.

5.      Ringan mengucapkan (Maaf, Tolong, Berterimakasih)
Pada suatu hari, ada seorang anak laki-laki yang sedang  bermain sepak bola, lalu tidak sengaja melempar bola ke wajah adik kelas-nya, seketika laki-laki yang menendang bola mengejar adik itu dan langsung meminta maaf. 

6.      Hormat kepada guru, membuka kan pintu pagar
Pada suatu hari saya pergi sekolah menggunakan motor, pada hari itu gerbang sekolah baru terbuka sedikit, motor belum bisa masuk, ketika saya sampai di depan gerbang sekolah ada seorang anak sedang berdiri di samping gerbang, ketika saya ingin turun dari motor dan membuka gerbang, anak itu langsung dengan inisiatif nya mendorong pagar besi yang menurut saya sangat berat, lalu saya masuk ke Sekolah dan mengucapkan terima kasih ketika saya telah memikirkan motor. Ketika saya akan menutup gerbang kembali, anak itu langsung menutup gerbang dengan inisiatif nya sendiri.

7.      Tidak Berkata-Kata Kasar
Di Sekolahalam Minangkabau tepatnya Di SD kelas 4, ada aturan siapa yang berkata-kata kasar maka akan dibuat kumis di wajahnya, dan yang mengontrol ini adalah semua penghuni kelas, tidak hanya guru (fasilitator) saja, aabila seorang teman mendengar salah satu temannya berkata-kata kasar maka anak tersebut akan melapor ke fasilitator kelas dan akan mengambil tindakan tersebut.

8.      Tidak menonton sinetron
Anak-anak di usia SD sangat mudah meniru apa yang ada disekitarnya, sehingga Di Sekolahalam Minangkabau anak-anak dilarang menonton sinetron.

9.      Sholat tanpa diperintah
Setiap pagi di Sekolahalam Minangkabau anak-anak setelah senam atau gotong-royong selalu sholat duha, kebetulan pada hari itu tidak ada perintah dari fasilitator kelas yang mengatakan anak-anak saatnya sholat duha,  pada hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasanya, hingga jak 9.00 pun  menjelang, tetap tidak ada perintah, lalu salah satu anak inisiatif berkata “ibu, aku berwudhu dulu ya, aku belum sholat duha. Tanpa diperintah mereka sadar sendiri.

10.  Barter makanan
Untuk beberapa kasus, jangankan di sekolah umum, di kampus misalnya, saya sering melihat ada orang yang mencomot langsung makanan temannya tanpa permisi, tidak 1/8 atau ¼ dia ambil makanan temannya ada yang sampai ½ atau hampir ¾. Di eskolah alam aku melihat anaknya sopan santun “budi, boleh aku minta makananmu sedikit? Atau kita tukaran yuk, aku punya roti, (sambil menyodorkan makanannya). Tidak ada cerita makanan  kita tiba-tiba diambil orang tanpa permisi,  terkadang anak tidak menerima barter makanan dari temannya.

11.  Gotong royong bersama
Di beberapa negara, sudah menerapkan, bahwa kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama, maka yang akan membersihkan sekolah memanglah para siswa, guru, dll. Inilah yag dikerjakan di Sekolahalam Minangkabau, selalu bergotong royong membersihakan kelas, tidak ada saling menyalahkan hari ini piketnya siapa piketnya siapa, tapi menjadi tanggung jawab semua anggota kelas setiap harinya.

12.  Tidak mengejek atau mengisolir teman
Di Sekolahalam Minangkabau biasanya ada anak yang berkebutuhan khusus di dalam kelas, saya melihat anak-anak tidak pernah mengisolir temannya yang ABK atau menghina, malah mereka saling menyemangati satu sama lain.

13.  Jiwa kepemimpinan
Setiap sekali seminggu anak SD Sekolahalam Minangkabau melakukan outbond di sekolah, dan yang akan menjadi leader dan mengatur teman-temannya outbond adalah anak SD itu sendri, sehingga mereka mampu mengontrol teman-temannya, dan jujur saja hal tersebut merupakan hal yang sangat berharga untuk anak, anak berani untuk berbicara di depan umum, mampu mengontrol teman sebaya, mampu menegur yang lebih dewasa apabila mereka tetap salah.

14.  Berpikir kritis
Biasanya, Apa yang akan terjadi apabila anak SD ditanya, “siapa yang mau menjawab soal nomor 4?” oleh gurunya, biasanya anak Diam seribu bahasa, tak ada yang berani untuk bertanya, tapi jangan remehkan, di Sekolahalam Minangkabau anak-anak akan berebutan untuk bertanya kepada gurunya apabila ada yang tidak mereka mengerti. 

15.  Minum dan makan selalu duduk
Jangan salahkan anak apabila anak makan sambil berdiri atau minum sambil berdiri, ketika guru di sekolah, orangtua di rumah dan teman anak-anak pun minum sambil berdiri, dan tidak ada seorang pun yang menegur bahwa makan dan minum berdiri adalah hal yang salah, dan itulah yang terjadi di sistem pendidikan kita, guru akan menegur anak apabila mereka menjawab 1+1=7, dan tidak menegur anak apabila minum sambil berdiri dan makan sambil berdiri, akhinya hal tersebut dianggap hal yang benar, dan semua orang bersikap seperti itu. Di Sekolahalam Minangkabu mendidik anak untuk makan dan minum sambil duduk merupakan hal yang jelas terlihat, guru (fasilitator) serta murid makan dan minum sambil duduk, ini pun juga ajaran Islam.

16.  Guru (fasilitator) berada di poskonya masing-masing.
Menurut saya, salah satu penyebab terjadinya bulying di sekolah karena guru berkumpul di ruang majelis guru ketika jam istirahat, sehingga tidak ada yang memantau apa yang dilakukan siswa di dalam kelas, apakah siswa sedang membuly temannya, sedang berkelahi di kelas, dll. Sebab lainnya adalah guru datang ke sekolah ketika jam mengajar saja, seharusnya guru itu stand by di sekolah dari pagi hingga petang, karena tugasnya itu mengajar dan juga mendidik, bukan hanya mengajar saja. Di Sekolahalam Minangkabau, guru (fasilitator) stand by di kelas hingga jam pelajaran selesai, jam istirahat pun tetap di kelas, makan bersama di kelas, karena guru (fasilitator) terus memperhatikan sikap anak, apabila ada yang tidak patut untuk dilakukan atau tidak sopan langsung dinasehati dan ditegur dengan cara yang baik, agar anak menjadi orang yang pintar dan berakhlak mulia.

Demikian tulisan saya, saya menulis tulisan ini bukan bermaksud untuk promosi Sekolahalam Minangkabau atau apapun itu, saya hanya ingin menceriakan hal-hal ajaib yang saya temukan ditengah-tengahnya kurangnya kepercayaan masyarakat dengan sistem pendidikan Indonesia saat ini. Terimakasih
Wassalam.

“KURANG CERDAS DAPAT DIPERBAIKI DENGAN BELAJAR. KURANG CAKAP DAPAT DIHILANGKAN DENGAN PENGALAMAN. NAMUN TIDAK JUJUR ITU SULIT DIPERBAIKI”

“SAYA TIDAK CEMAS APABILA ANAK SAYA TIDAK CAKAP DALAM MENAMBAH DAN MENGURANGKAN, YANG SAYA CEMASKAN ADALAH APABILA MEREKA TIDAK BISA ANTRI”

“JANGAN HIDUP SEPERTI LILIN, AGAR DISEKITARNYA TERANG, LILIN RELA MEMBAKAR DIRINYA SENDIRI, BANYAK ORANGTUA YANG MAMPU BEKERJA DENGAN HEBAT DILUAR RUMAH, MENOLONG BANYAK KARYAWANNYA, TAPI ANAKNYA DIRUMAH TERLANTAR, JANGAN SEPERTI ITU. KARENA UNTUK MEMPERBAIKI GENERASI BANGSA YANG KATANYA SUDAH RUSAK BUKAN HANYA TUGAS IBU DIRUMAH, TUGAS AYAH, TETAPI SEMUANYA BERPERAN, MULAI DARI RUMAH, MASYARAAT, HINGGA SEKOLAH” 

Maaf apabila ada tulisan yang salah, saya masih proses belajar, oiya ini dia murid-murid di Sekolahalam Minangkabau 


Outing ke Teluk Bayur melihat kapal Bima Suci

Di atas kapal Bim Suci

Outing bersama SL (Sekolah Lanjutan) ke Klenteng Pondok China



Outing ke Mesjid Ganting, Mesjid tertua di Padang

Pesan:
Jadi pesan bagi orangtua hati-hati dalam memilih tempat untuk belajar anak, jangan malah menjadikan anak menjadi pribadi yang salah ketika pergi ke Sekolah. Pilihlah sekolah yang membuat anak menjadi manusia yang baik IQ, EQ dan SQ.
 

Friday, November 24, 2017

Para Penembus Garis Batas

Para Penembus Garis Batas

Para Penembus Garis Batas.
Para penembus garis batas tak memperhatikan merek jam tangan apa yang kamu pakai.
Para penmbus garis batas tak menilai merek baju apa atau tas apa yang kamu pakai
Para penembus garis batas tak menghitung berapa gajimu per bulan.
Para penembus garis batas tak mempermasalahkan apa pekerjaan orangtuamu
Para penembus garis batas hanya menilai bagaimana cara engkau menghargai orang lain.

Mengapa dunia kita dikotak-kotakkan?
Kenapa harus ada sebuah batasan?
Kenapa setiap wilayah dibatasi?
Tidak bisakah manusia saling membaur saja?

Mendobrak batas-batas tersebut?
Menerjang batas batas tersebut?
Menembus batas-batas tersebut?

Mengapa kita hidup berkoloni sesuai dengan kemiripan dan kesamaan saja?
Mengapa kita hidup terkotak-kotakkan?
Tidak bisakah kita memiliki teman yang beragam?
 Cobalah lihat di zona nyamanmu, engkau lihat ke arah kiri, lihat ke arah kanan, lihat kedepan, 

kulihat di belakang, oh wanita itu sama denganku, dari semua aspek, berjilbab, kulitnya cokelat, tingginya setara, agamanya sama, budayanya, bahasanya sama, oh zona nyaman begitu membosankan,

Kini ku coba dobrak batas batas tersebut, ku lintasi beratus-ratus kilometer untuk mendobrak “garis batas” kini kulihat kanan, kiri, depan, belakang, oh semua temanku tidak lagi mirip denganku, kulihat kedepan oh rambutnya pirang, kulihat kesamping oh kulitnya putih langsat, kuliha kita bergam, kita berbeda, kita bahagia, kita saling belajar, dan yang terpenting kita manusia.
Manusia tidak harus dikotak-kotakkan sesuai kemiripan tubuhnya,

Mengapa begitu sulit bagi manusia untuk mendobrak garis batas? Mengapa terlalu banyak yang takut unutk melewati garis batas tersebut? Bukankah kita sebaiknya membaur dan membawa nilai yang telah ditanam didalam diri masing-masing agar meskipun berbeda kita tetap tahu batasan?

Tak perlu cemas ketika melewati garis batas tersebut,
Yang perlu dicemaskan adalah ketika terus menerus merasa benar didalam kotak keegoisan dan tidak mau melihat bagaimana nasib orang lain yang terkotak-kotakkan diujung sana.