bagaimana menurutmu terhadap blog ini?

Friday, October 5, 2018

Keluarga Kecil Dari Tiongkok


Keluarga Kecil Dari Tiongkok

Ini merupakan cerita ku beberapa hari yang lalu ketika aku satu penerbangan dengan sebuah keluarga dari Tiongkok. Penerbangan dari Bali menuju Jakarta memang banyak berisikan penumpang turis dari mancanegara yang biasanya baru saja pulang berlibur. Kebetulan pada hari itu  di atas pesawat aku duduk tepat di belakang kursi satu keluarga berasal dari negara Cina terdiri dari Ayah, Ibu, dan seorang Anak laki-laki. Aku tahu ini adalah keluarga berasal dari Cina karena perbincangan mereka mengingatkan ku beberapa waktu yang lalu ketika bulan Juni 2017 aku dan bersama teman-temanku melakukan program short course di sana, sehingga aku tahu aksen bicara mereka berasal dari Cina. 

Aku suka dengan negara Tiongkok karena dahulunya aku pernah membaca buku karangan Agustinus Wibowo yang berjudul Titik Nol. Di dalam buku tersebut menceritakan  seorang anak muda yang terlahir dan besar di Indonesia dan keturunan Tiongkok dan akhirnya melanjutkan S1 di Tiongkok dan melakukan perjalanan ala backpacker  mulai dari Cina lalu melintasi negara Timur Tengah. Aku suka dengan cerita di dalam buku tersebut karena membuat imajinasi ku melayang ke daerah mempesona tetapi terkepung perang di  negara-negara Asia Tengah.

Selanjutnya, Aku suka Cina karena peradabannya yang maju dan diharapkan bisa menjadi contoh, bahkan nabi Muhammad SAW berkata “Tuntunlah ilmu sampai ke negeri Cina”.

Aku ingin menceritakan betapa terpesona nya aku dengan seorang bocah laki-laki berusia kira-kira 4 tahun yang duduk tepat di depan kursi ku. Sepanjang perjalanan aku memperhatikan sikapnya sembari tertawa-tertawa sendiri melihat tingkah-nya yang lucu, penasaran dan imut.

Selama perjalanan dari Bali menuju Jakarta kami melewati banyak pulau, selat, teluk, pegunungan, perbukitan yang sangat cantik apabila dilihat dari atas pesawat, khatulistiwa terlihat begitu indah. Memang kebiasaanku apabila check in memilih kursi yang paling tepi di samping jendela, karena selama perjalanan aku tidak mau tidur, aku mau melihat alam Indonesia nan mempesona dari atas pesawat yang terbang kira-kira setinggi 28.000 kaki.

Selama perjalanan bocah cilik keturunan Tiongkok yang duduk di depan aku juga duduk di tepi jendela. Ibunya duduk di tengah, dan si Ayah duduk di lorong, selama perjalanan si Ibu terlihat capek hingga ia terlelap di atas meja yang terbuka, Ayah hanya mengawai sisi anak sembari si anak selalu memberitahu Ibunya ketika ada suatu hal yang membuat ia terpesona dari atas pesawat ketika melihat sesuatu di bawah yang menarik perhatiannya.

Dari awal keberangkatan hingga akhir perjalanan si Anak tidak henti-hentinya terpesona, terkadang ia menepuk punggung Ibunya yang sedang terlelap dan  memberi tahu Ibunya “Lihatlah keluar Ibu, itu ada pulau kecil, pulau apa itu namanya? Ibu coba lihat awannya indah sekali, Ibu itu ada Gunung, Gunung apa namanya?” aku rasa arti ucapan anak tersebut, meskipun dalam bahasa Cina yang sebenarnya aku tidak mengerti, tapi aku rasa itulah arti perkataan si Anak yang tak henti-henti terkagum melihat Indonesia dari atas awan.

Sang ayah selalu menunjukkan kebahagiaan anak dengan mengangguk angguk membalas percakapan si Anak yang satu arah saja sembari memberikan anak laki-laki itu biskuit. Semakin aduhai kenikmatan si bocah tersebut, karena ia melihat keindahan Indonesia sembari memakan biskuit coklat yang remah-rempahnya berserakan ke mana-mana.

Si Ayah tak menghardik anak untuk tenang dan diam selama perjalanan, si Ayah membiarkan anaknya mengekspresikan apa yang ia rasakan dan apa yang ia lihat. Sama dengan si Ibu yang terlihat kurang sehat hanya diam dan menutup mata dan memberikan kebebasan kepada anaknya untuk mengobservasi pesona Indonesia.

Aku rasa suatu hari kelak si Anak akan menjadi traveler sejati, hahahha itu menurutku karena si anak begitu takjub dengan melihat Indonesia dari atas dan rasa ingin tahu nya yang tinggi. Begitu juga denganku, aku tak bosan-bosan melihat pulau Indonesia dari atas sembari menebak aku sudah dimana yaa, “hmmm sepertinya di bawah itu sekarang ini aku di Banyuwangi, oh itu ada pantai, sepertinya pantai itu berada di bagian utara pulau Jawa, apa saja ya kota yang berada di bagian Utara Pulau Jawa, waah ada gunung , itu gunung apa ya? Hmmm mungkin Gunung Bromo, wah ada danau, itu Danau dimana ya??”.

Semua percakapan atas sebuah penasaran juga hanya ku-ucapkan dalam hati sembari berimajinasi seandainya aku bisa berbahasa Cina ingin rasanya aku berdialog dengan bocah cilik ini tentang rasa penasaranku dan rasa penasarannya.



Si bocah cilik ini terlihat begitu senang menikmati perjalanan dari Bali menuju Jakarta, tak sedetikpun dia terlelap, tetapi terkadang ia menutup kaca jendelanya lalu membuka kembali lalu memukul mukul kaca seolah-olah tangannya ingin menyentuh awan, oh so sweet sekali ku berbisik dalam hati.

Ketika pesawat mendarat kenikmatan mataku dan mata bocah cilik menelurusi Bali hingga Jakarta pun berakhir, kami sudah puas melihat alam ini.
Si Anak, Ayah dan Ibu berlalu begitu cepat ketika pesawat mendarat, padahal aku ingin menyapa mereka dengan bahasa Cina “nihao” ya setidaknya itu saja yang aku ingat kata sapaan dalam bahasa Cina.

Sampai jumpa, semoga suatu hari nanti aku bisa menjelajah di Cina lagi di negerimu yang terlalu besar untuk dikunjungi dalam sekali kunjungan saja, aku berharap aku bisa kesana lagi. See you Negara Tirai Bambu J 

Wednesday, October 3, 2018

Para Penembus Garis Batas

Para Penembus Garis Batas.
Para penembus garis batas tak memperhatikan merek jam tangan apa yang kamu pakai.
Para penmbus garis batas tak menilai merek baju apa atau tas apa yang kamu pakai
Para penembus garis batas tak memperdulikan berapa penghasilanmu berpulan.
Para penembus garis batas tak mempermasalahkan apa pekerjaan orangtuamu.
Para penembus garis batas hanya menilai bagaimana cara engkau menghargai orang lain.

Mengapa dunia kita dikotak-kotakkan?
Kenapa harus ada sebuah batasan?
Kenapa setiap wilayah dibatasi?
Kenapa beda pemimpin? Beda kekuasaan? Beda peraturan? Beda batasan?
Tidak bisakah manusia saling membaur saja?
Mendobrak batas-batas tersebut?
Menerjang batas batas tersebut?
Menembus batas-batas tersebut?
Mengapa kita hidup berkoloni sesuai dengan kemiripan dan kesamaan saja?
Mengapa kita hidup terkotak-kotakkan?
Tidak bisakah kita memiliki teman yang beragam?

Cobalah lihat di zona nyamanmu, engkau lihat ke arah kiri, lihat ke arah kanan, lihat kedepan, kulihat di belakang, oh wanita itu sama denganku, dari semua aspek, kulitnya cokelat, tingginya setara, agamanya sama, budayanya, bahasanya sama, oh zona nyaman begitu membosankan.
Kini ku coba dobrak batas batas tersebut, ku lintasi beratus-ratus kilometer untuk mendobrak “garis batas” kini kulihat kanan, kiri, depan, belakang, oh semua temanku tidak lagi mirip denganku, kulihat kedepan oh rambutnya pirang, kulihat kesamping oh kulitnya putih langsat, kuliha kita bergam, kita berbeda, kita bahagia, kita saling belajar, dan yang terpenting kita manusia.

Manusia tidak harus dikotak-kotakkan sesuai kemiripan tubuhnya,
Mengapa begitu sulit bagi manusia untuk mendobrak garis batas? Mengapa terlalu banyak yang takut unutk melewati garis batas tersebut? Bukankah kita sebaiknya membaur dan membawa nilai yang telah ditanam didalam diri masing-masing agar meskipun berbeda kita tetap tahu batasan?

Tak perlu cemas ketika melewati garis batas tersebut,
Yang perlu dicemaskan adalah ketika terus menerus merasa benar didalam kotak keegoisan dan tidak mau melihat bagaimana nasib orang lain yang terkotak-kotakkan diujung sana.

Saturday, June 2, 2018

Karena Engkau Kota dan Aku Desa (Edisi Puisi)






KARENA ENGKAU KOTA DAN AKU DESA,

(by: Dian Montanesa)

Karena kau kota dan aku desa,
Kau suka gedung tinggi, aku suka pepohonan tinggi,
Kau suka beton, aku suka kayu,
Kau suka aspal, aku suka rerumputan,

Kau suka klakson, aku suka sahutan ayam,
Kau suka abu-abu, aku suka hijau,
Kau suka keramaian, aku suka ketenangan,
Kau suka kemewahan, aku suka kesederhanaan,

Kau suka pesta, aku suka hening,
Kau suka harta, aku cukup cinta,
Kau suka pujian, aku suka kesunyian,
Kau suka malam, aku suka pagi,

Kau suka menatap gemerlap lampu, aku cukup menatap rembulan,
Kau suka kendaraan mewah, aku cukup bersepeda,
Kau suka teknologi canggih, aku cukup permainan sederhana,
Kau suka saling pamer, aku cukup saling tahu,

Kau suka saling membanggakan, aku cukup saling mengerti,
Mobilitasmu tinggi, aku cukup berjalan dikeheningan,
Kau suka jabatan, aku suka persaudaraan,
Kau suka makan di resto itu, aku cukup makan bersama orang terdekat,

Kau suka wanita bergaun, dan aku bukan,
Bisakah kota dan desa bersama?
Tentu tidak
Karena kota membenci kehidupan desa yang “KOLOT”



Sunday, May 6, 2018

Ada Si Malin Kundang di Pulau Seribu Pura


Ada si Malin Kundang di Pulau Seribu Pura

Minggu, 29 April 2018 Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk menampilkan wayang dengan karakter cerita Malin Kundang di depan adek-adek kampung English Bali yang didirikan oleh Tesa salah satu murid Green School. Penampilan saya pada kali ini merupakan yang pertama kalinya.


Dari kiri ke kanan(Pak Pras, Istri Pak Pras, Tesa, Dian)



Ini dia photo keluarga yang mendirikan kampung English di Bali, kampung English ini adalah komunitas yang memberikan pembelajaran kepada adik-adik mengenai bahasa inggris dan gratis tidak dipungut biaya apapun. Adik-adik yang belajar di kampung English Bali ini ada sekitar 20-40 orang.

Anak-anak memang tidak tahan apabila sudah dikasih suatu penampilan yang full colour, sesuatu yang menarik perhatian mereka. Anak-anak akan cepat bosan apabila menurut mereka tidak ada yang menarik di mata.

Cerita Malin Kundang sendiri sangatlah memiliki nilai yang bagus, agar anak tidak melawan, tidak kasar, selalu baik, selalu patuh, apalagi di hari tua mereka. Semoga melalui cerita rakyat dari Padang, Sumatera Barat yang disampaikan kepada Adik-adik melalui penampilan Wayang mampu diingat selalu sehingga menjadi pelajaran untuk kita semua bagaimana merawat orangtua sebaiknya









"Apabila tidak bisa menjadi yang pertama, jadilah yang terbaik, apabila tidak mampu menjadi yang terbaik, jadilah yang unik"

"Kemanapun kaki melangkah semoga bisa menjadi bermanfaat untuk orang disekelilingku"

"Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah"

"Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang"

Thursday, March 29, 2018

Indahnya Pohon Bambu



Indahnya Pohon Bambu
Hari ini aku melihat beberapa pria sedang menyemprotkan air ke bagian bawah pohon bambu  di Green School, aku penasaran apa yang sedang mereka lakukan. Mereka menyeprotkan air ke bagian bawah pohon bambu yang berlumut, dan ternyata yang mereka lakukan itu adalah cara untuk membersihkan pohon bambu dari lumut yang menempel dibatangnya.

Tanpa disadari setelah dibersihkan hasilnya sangat mengejutkan, wow! Warna pohon bambu yang biasanya penuh bewarna hijau dari atas ke bawah  setelah dibersihkan menjadi berubah warna, dibagian bawahnya bewarna kuning dan bagian tengah hingga bagian atasnya bewarna hijau.

Sangat indah, aku sangat takjub, aku tak habis pikir bahwa begitu ternyata cara membersihkan lumut yang menempel di batang pohon bambu, lumut yang menempel menutupi warna asli dari pohon Bambu tersebut dan setelah dibersihkan warna aslinya pun kembali terlihat. Amazing :)


Sebelum dibersihkan

Setelah dibersihkan
Menyeprotkan air ke batang pohon bambu untuk dibersihkan